Jalur Neraka dengan Jebakan Jalanan Landai dan Hujan Deras

Jalur Neraka dengan Jebakan Jalanan Landai dan Hujan Deras

Mojokerto – Etape kedua Tour de Indonesia (TdI) 2018 landai. Tapi, hujan deras dan jalanan berpasir membuat etape ini menjadi jalur neraka dengan kecepatan super.

Etape kedua TdI dari Madiun menuju Mojokerto, Jumat (26/1/2018) menjadi jalur neraka bagi 90 pebalap yang ambil bagian. Dengan jarak tempuh yang pendek 117,5 km, hujan, dan sebagian jalanan yang berpasir, tujuh pebalap tak bisa menyelesaikan balapan sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Dengan situasi itu, empat pebalap dipastikan tak bisa melanjutkan perlombaan pada etape ketiga. Mereka terjatuh hingga sepedanya rusak parah. Pebalap-pebalap itu, Martin Bonijoe dari 7 Eleven-Cliqq Roadbike Filipina, Dominic Schils dari Java-Partizan Pro Cycling, Erik Adrianto yang memperkuat Timnas Indonesia, dan Mohd Bakri Sofian Nabil dari Timnas Malaysia.

Statistik mencatat rata-rata kecepatan pebalap pada etape kedua itu mencapai 48,86 km per jam. Menurut ofisial KFC Cycling Team, Abdul Gani, pebalap KFC yang keluar sebagai juara etape kedua, smepat mencatatkan keepatan hingga 75 km per jam.

Pebalap dari tim Jepang, Aisan Racing Team, Kota Yumiyoshi, menyebut hujan bukan masalah bagi dia. Tantangan terberat pada etape kedua itu justru jalur yang landai dan pendek, serta banyak pasir di sejumlah titik.

“Hari ini jalur lebih pendek dan landai. Saya sudah memprediksi kalau balapan berlangsung sangat cepat. Tapi, saya belum menang saja,” kata Yumiyoshi, usai balapan.

“Jalanan masih kalah bersih dari kemarin dan lebih banyak jalur kereta (pada etape kedua ini). Selain itu, ada beberapa bagian jalanan yang sedang diaspal,” dia menambahkan.

Parno, sport director KFC Cycling Team, menilai turunnya hujan menambah kecepatan pebalap. Sebab, para pebalap tak perlu bertarung dengan cuaca panas.

“Abdul Gani dan pebalap saya bisa tampil lebih relaks karena justru terbantu karena hujan. Mereka tak kepanasan,” kata Parno.

KLIK DISINI